Laman

Jumat, 20 Juli 2012

Dilema Bajaj


Dilema Bajaj
Oleh Praditio Anggoro

Pada umumnya setiap masyarakat Jakarta yang tinggal di perumahan sebenarnya sangat menginginkan angkutan transportasi yang murah, nyaman dan mudah dijangkau, serta ramah lingkungan. Inilah sebuah gambaran nyata mode sarana transportasi yang sangat dinantikan dan diinginkan oleh warga Jakarta dan sekitarnya.
Akan tetapi, gambaran itu tampaknya hanya menjadi wacana saja dan mungkin akan sulit terwujud di kota-kota besar di Indonesia khususnya di DKI Jakarta. Hal ini jelas terlihat dari banyaknya kendaraan umum dan pribadi yang semakin semrawut di kota metropolitan ini. Belum lagi jumlah volume kendaraan setiap tahunnya semakin meningkat dan bertambah dengan pesat. Kondisi seperti ini cendrung tidak diimbangi dengan penambahan sarana dan prasarana jalan yang baik dari pemerintah.
Contoh saja transportasi yang dulunya banyak beroperasi di daerah Jakarta adalah bajaj. Kendaraan roda tiga ini selalu menimbulkan kebisingan dan banyak mengeluarkan asap melalui  knalpotnya yang menyebabkan polusi udara meningkat. Pemerintah kota DKI Jakarta sebenarnya telah mengambil kebijakan untuk menggantikan kendaraan ini dengan model baru yang disebut kendaraan kancil. Sebenarnya kendaraan kancil ini mempunyai ciri khas tersendiri, misalnya yaitu kendaraan kancil ini menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) yang dapat mengurangi polusi udara, selain itu kendaraan ini pun dapat mengangkut lebih dari tiga orang, serta lebih terlihat rapi dan nyaman.
Akan tetapi, kebijakan Pemerintah kota DKI Jakarta mengganti bajaj dengan kendaraan kancil tersebut banyak menuai kontra/penolakan dari para pemilik bajaj. Menurutnya kendaraan ini adalah satu-satunya kendaraan yang dia miliki dan merupakan sumber penghidupan bagi keluarganya, serta dianggap sangat mudah keluar masuk jalan dan gang-gang sempit. Para pemilik bajaj pun mengaku jika bajajnya diganti dengan kendaraan kancil, ia tak sanggup untuk membelinya. Karena, harga satu unit kendaraan kancil tersebut jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan harga satu unit bajaj. Walaupun bajaj menjengkelkan di jalan raya dan tidak nyaman, sebagian besar warga Jakarta masih membutuhkan tenaganya
Kebijakan pemerintah DKI Jakarta menggantikan bajaj ke alat transportasi kancil dinilai memberatkan si pemilik/supir bajaj. Pasalnya ia harus berjuang mati-matian setiap harinya untuk dapat menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya di Jakarta, serta membayar uang kontrakan dan membiayai keluarganya di kampung. Dan belum lagi ia setiap hari harus menyetorkan uang antara 20 ribu sampai 40 ribu rupiah kepada bosnya.


Mengingat masalah bajaj adalah masalah sumber penghidupan dan perut banyak orang, semestinya pemerintah mengambil langkah-langkah kebijakan alternatif lainnya yang lebih efektif agar tidak selalu memberatkan rakyat kecil dan tidak menjadi permasalahan yang sulit ditangani. Pemerintah jangan hanya melihat sudut pandang para pemilik/supir bajaj dari sebelah mata saja, melainkan melalui sudut pandang keseluruhannya, karena masalah tersebut sudah menjadi masalah perut banyak orang dan sudah menjadi sumber penghidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar